Nama : Nuke Wulandari

Kelas  : 1KA05

NPM   : 15111271

 

 

 

 

Pada hakekatnya, manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh dan yang diciptakan paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia juga merupakan makhluk biokultural yaitu makhluk hayati yang budayawi serta makhluk ciptaan Tuhan yang terikat dengan lingkungan (ekologi), mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.

Ilmu psikologi memang berasal dan timbul dari masyarakat Barat, dimana konsep individu itu mengambil tempat yang amat penting, biasanya menganalisis jiwa manusia dengan terlampau banyak menekan kepada pembatasan konsep individu sebagai kesatuan analisis sendiri. Untuk menghindari pendekatan terhadap jiwa manusia itu, hanya sebagai subjek yang terkandung dalam batas individu yang terisolasi maka Francis L.K. Hsu (1971) telah mengembangkan suatu konsepsi bahwa dalam jiwa manusia sebagai makhluk social budaya itu mengandung delapan daerah yang seolah-olah seperti lingkaran-lingkaran konsentris sekitar diri pribadi.

Nomor 7 dan nomor 6 disebut daerah tak sadar dan sub sadar. Kedua lingkaran itu berada di daerah pedalaman  dari alam jiwa individu dan terdiri dari bahan pikiran dan gagasan yang telah terdesak ke dalam, sehingga tidak disadari lagi oleh individu yang bersangkutan. Nomor 5 disebut kesadaran yang tak dinyatakan. Lingkaran itu terdiri dari pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan yang disadari oleh individu yang bersangkutan, tetapi disimpannya saja di dalam alam jiwanya sendiri dan tak dinyatakan kepada siapapun juga dalam lingkungannya karena beberapa faktor seperti takut salah dan takut dimarahi, sungkan karena belum yakin, malu karena takut ditertawakan, dan karena tidak menemukan rumusan kata-kata yang cocok untuk menyatakan gagasan yang bersangkutan. Nomor 4 disebut kesadaran yang dinyatakan. Lingkaran ini didalam alam jiwa manusia mengandung pikiran-pikiran, gagasan-gagasan, dan perasaan-perasaan yang dapat dinyatakan secara terbuka oleh individu kepada sesamanya. Nomor 3 disebut lingkaran hubungan karib, mengandung konsepsi tentang orang-orang, binatang-binatang atau benda-benda yang oleh individu diajak bergaul secara mesra dan karib, yang bisa dipakai sebagai tempat berlindung dan tempat mencurahkan isi hati. Nomor 2 disebut lingkaran hubungan berguna, tidak lagi ditandai oleh sikap sayang dan mesra, melainkan ditentukan oleh fungsi kegunaan dari orang, binatang, atau benda-benda itu bagi dirinya. Nomot 1 disebut lingkaran hubungan jauh, terdiri dari pikiran dan sikap dalam alam jiwa manusia tentang manusia, benda-benda, alat-alat, pengetahuan dan adat yang ada dalam kebudayaan dan masyarakat sendiri, tetapi yang jarang sekali mempunyai arti dan pengaruh langsung terhadap kehidupan sehari-hari. Nomot 0 disebut lingkaran dunia luar, terdiri dari pikiran-pikiran dan anggapan-anggapan yang hampir sama dengan pikiran yang terletak dalam ligkaran nomor 1 hanya bedanya terdiri dari pikiran-pikiran dan anggapan-anggapan tetang orang dan hal yang terletak di luar masyarakat dan Negara Indonesia.

Banyak sekali para ahli yang merumuskan definisi mengenai kebudayaan. Jika dikaji, kebudayaan sendiri berasal dari bahasa sansekerta ‘budhayah’ yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa latin ‘colere’ berarti mengolah tanah. Secara umum kebudayaan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi manusia dengan tujuan untuk mengolah tanah atau tempat tinggalnya. Selo Soemarjan dan Sulaiman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat.

Secara praktis, kebudayaan merupakan sistem nilai dan gagasan utama yang dihayati oleh para pendukung kebudayaan yang bersangkutan dalam kurun waktu tertentu, sehingga mendominasi keseluruhan kehidupan para pendukung itu. Sistem nilai dan gagasan utama hakekat kebudayaan terwujud dalam tiga sistem kebudayaan secara terperinci yaitu system ideologi yang meliputi etika, norma, adat istiadat, peraturan hukum; sistem sosial yang meliputi hubungan dan kegiatan sosial di dalam masyarakat; serta system teknologi yang meliputi segala perhatian serta penggunaannya sesuai dengan nilai budaya yang berlaku.

C. Kluckhohn di dalam karyanya Universal Categories of  Culture mengemukakan ada tujuh unsur kebuadaya universal yaitu system religi, system organisasi kemasyarakatan sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian hidup dan sistem, sistem ekonomi, sistem teknologi dan peralatan, bahasa, dan terakhir kesenian.

Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wujud, yaitu:

  1. Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia

Wujud ini disebut sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat, dan berpusat pada kepala-kepala manusia yang menganutnya

  1. Kompleks aktivitas

Berupa aktivitas manusia saling berinteraksi, bersifat konkret, dan dapat diamati atau diobservasi

  1. Wujud sebagai benda

Kebudayaan dalam bentuk fisik yang konkret bisa juga disebut kebudayaan fisik, mulai dari benda diam sampai bergerak.

Sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia secara universal menyangkur 5 masalah pokok kehidupan manusia, yaitu:

  1. Hakekat hidup manusia
  2. Hakekat karya manusia
  3. Hakekat waktu manusia
  4. Hakekat alam manusia
  5. Hakekat hubungan manusia

Terjadinya gerak atau perubahan budaya dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:

  1. Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri
  2. Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup

Berbagai faktor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya suatu unsure kebudayaan baru, diantaranya sebagai berikut:

  1. Terbatasnya masyarakat memiliki hubungan atau kontak dengan kebudayaan dan dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut
  2. Jika pandangan hidup dan nilai-nilai yang dominan dalam suatu kebudayaan ditentukan oleh nilai-nilai agama, dan ajaran ini terjalin erat dalam keseluruhan pranata yang ada
  3. Corak struktur sosial suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan budaya baru
  4. Suatu unsur kebudayaan diterima jika sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan baru tersebut
  5. Apabila unsur yang baru itu memiliki skala kegiatan yang terbatas dan dapat dengan mudah dibuktikan kegunaannya oleh warga masyarakat bersangkutan

Hubungan antara manusia dan kebudayaan dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis. Proses dialektis ini tercipta melalui 3 tahap:

  1. Eksternalisasi, proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya
  2. Obyektivasi, proses dimana masyarakat menjadi realitas objektif
  3. Internalisasi, proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia

sumber:

elearning gunadarma